
KARTA, KOMPAS - Sejarah bulu tangkis Indonesia mencatat hanya tunggal
dan ganda putra yang mampu menjadi kampiun di turnamen bulu tangkis All
England lebih dari dua kali berturut-turut. Awal Maret, ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mengejar rekor itu.
Tontowi/Liliyana, peringkat kedua dunia, telah mengukir catatan baru
bagi ganda campuran Indonesia ketika menjadi juara All England dua kali
beruntun pada 2012 dan 2013. Pada tahun terakhir, 2013, mereka
melengkapinya dengan gelar juara dunia yang diraih di Guangzhou, China,
Agustus.
Prestasi Tontowi/Liliyana di All England menyamai
prestasi ganda putra Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky, pemain Indonesia yang
terakhir kali mempertahankan gelar pada 1995 dan 1996.
Selain
Ricky/Rexy, pada era 1990-an ada Hariyanto Arbi yang juga pernah
mempertahankan gelar, yaitu pada All England 1993-1994. Susy Susanti
bahkan melakukannya dua kali, yaitu tahun 1990-1991 dan 1993-1994.
Namun, Liliyana dan Tontowi menginginkan prestasi yang lebih
dibandingkan para sesepuh bulu tangkis Indonesia itu. "Ingin sekali
mencetak prestasi tiga kali berturut-turut. Mudah-mudahan diberi jalan
untuk mewujudkannya," kata Liliyana saat ditemui seusai latihan di Pusat
Bulu Tangkis Indonesia Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (20/2).
Sejarah bulu tangkis Indonesia mencatat hanya Rudy Hartono (tunggal
putra) dan pasangan Tjun Tjun/Johan Wahyudi (ganda putra) yang
menorehkan tinta emas, menjadi juara lebih dari empat kali
berturut-turut. Rudy menjadi kampiun tujuh kali berturut-turut,
1968-1974, sedangkan Tjun Tjun/Johan Wahyudi menjadi kampiun tahun
1977-1980.
Wahyudi, sebelum 1977, telah menjadi kampiun dengan
dua pasangan yang berbeda dan berturut-turut. Tahun 1973, berpasangan
dengan Christian Hadinata, dia menjadi kampiun ganda putra All England.
Dua tahun berikutnya, 1974-1975, berpasangan dengan Tjun Tjun, dia juga
menjadi kampiun ganda putra All England.
Tantangan China-Denmark
Liliyana dan Tontowi menyadari keinginan mereka mengejar rekor emas
bagi karier mereka tak akan mudah. Tantangan tak hanya datang dari
China, pesaing tradisional bulu tangkis Indonesia, tetapi juga dari
Denmark, yang tengah menggeliat.
Liliyana, yang tahun ini akan
menginjak usia 29 tahun, mengatakan, para penghuni empat hingga lima
besar dunia akan semakin sengit di All England tahun ini. Pasangan Zhang
Nan/Zhao Yunlei dan Xu Chen/Ma Jin dinilainya masih menjadi pesaing
terberat.
"Setiap final pasti akan bertemu dua pasangan ini.
Sesekali mungkin bertemu pemain Denmark atau Eropa lainnya. Kami sadari
itu," katanya.
Sama-sama sudah mengerti permainan masing-masing
membuat mereka seperti harus bertarung melawan diri sendiri. Kemauan
dan mental juaralah yang menentukan hasil di lapangan ketika di semua
lini, keempat pesaing memiliki kemampuan yang setara.
Hal ini
disadari Tontowi. Dia mengakui perbaikan mental menjadi hal mendasar
yang harus dijalaninya dalam beberapa bulan terakhir. "Ini yang terus
saya perkuat. Saya berharap hasil terbaik nanti," katanya.
Richard Mainaky, kepala pelatih ganda campuran, menilai,
Tontowi/Liliyana telah siap untuk membuat sejarah baru bagi bulu tangkis
Indonesia. "Semua telah siap. Kami tidak memandang rendah yang lain.
Namun, kami memang sudah sangat siap," katanya.
Title : Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir Kejar Rekor di All England 2014
Description : KARTA, KOMPAS - Sejarah bulu tangkis Indonesia mencatat hanya tunggal dan ganda putra yang mampu menjadi kampiun di turnamen bulu tangkis...